Tujuh Putaran di Halaman Rumah: Cerpen tentang Masa Kecil dan Imajinasi

Tujuh Putaran di Halaman Rumah Cerpen ini adalah karya dari Muhammad Sabana Namaku Ghazi, umurku lima tahun, dan hampir setiap hari aku berlari di halaman rumah seperti tidak pernah kehabisan tenaga, seolah-olah kakiku selalu tahu ke mana harus pergi meskipun aku sendiri tidak pernah benar-benar memikirkannya. Di tengah halaman itu ada sebuah pohon kecil yang tidak terlalu tinggi, tetapi cukup untuk menjadi tempatku berputar-putar, tempat yang selalu kupilih setiap kali aku ingin bermain sendirian tanpa merasa benar-benar sendirian. Aku sering mengelilinginya sambil menghitung dengan suara keras, satu, dua, tiga, lalu tiba-tiba melompat ke angka berikutnya karena aku lupa, dan setiap [...]

By |July 15, 2026|Categories: Sastra|0 Comments

Yang Tidak Pernah Lahir: Puisi tentang Cinta Seorang Ibu

Yang Tidak Pernah Lahiraku menunggu namamu tumbuh di tubuhkuseperti hujan yang pelan menemukan batubertahun-tahun aku belajar diammenyimpan harap yang tak pernah tamat malamkau hadir seperti doa yang tak bersuaramengisi tubuhku dengan cahaya yang sementaraaku belajar mencintai yang belum sempat adamenjadi ibu, tanpa sempat menyapadi pagi yang biasa, tanpa tanda apa-apaaku merasakan sesuatu pergi dari jiwabukan langkah, bukan suara, bukan rupahanya sunyi yang lebih dalam dari lukaaku memanggilmu dalam bahasa yang retaknamun kau telah jatuh, terlalu cepatmeninggalkan tubuhku yang masih mengikatantara hidup, kehilangan, dan harap yang berattubuhku tetap hangat, tapi tak lagi utuhseperti rumah yang kehilangan satu pintuaku menggendongmu tanpa sempat [...]

By |July 15, 2026|Categories: Sastra|0 Comments

Depresi: Puisi tentang Luka yang Tak Selalu Terlihat

DepresiIa berjalan di dalam kepalanya sendiri,di jalan yang tak pernah selesai dibangun.Kursi tetap kursi,meja tetap meja,tapi tubuhnya seperti orang asingyang kehilangan alamatnya.Ia tertawanamun tawanya tidak pulang.Ia berbicaranamun suaranya jatuhsebelum sempat didengar.Di dadanya ada genderangyang berdetak terlalu keras,terlalu sendiri,terlalu jujur untuk diabaikan.Dan ia tahutidak ada yang datang menyelamatkan.Tidak ada pahlawan.Tidak ada kata-kata besar.Hanya pagiyang kembali memaksanya banguntanpa alasan yang cukup.Ia ingin marah,tapi marah punterasa terlalu jauh.Ia ingin lari,tapi kakinyamenjadi milik waktu yang berhenti.Lalu ia berdiribukan karena kuat,melainkan karena tidak jatuh hari ini.Dan di sana,dalam langkah yang hampir patah,ia tetap ada.Masih hidup.Masih menyimpan sisa napasyang belum sempat menyerah.

By |July 15, 2026|Categories: Sastra|0 Comments

Puisi Refleksi Diri: Diam Bukan Berarti Menyerah

“Diam”ia tidak berkatabukan karena tak punya suaratapi karena ia tahutidak semua yang terdengarperlu dibalashari ini datang dengan banyak tanyadan ia memilihtidak ikut menjawabbukan karena kalahtapi karena lelahdengan suara yang ingin selalu benardi dalam dirinyaada sesuatu yang berdiri tegakmeski tidak terlihatsesuatu yang tidak memintatidak menjelaskantidak juga menuntut dimengertiia belajarbahwa diambisa lebih jujurdaripada seribu pembelaandan dalam diam ituia tetap adatidak hilangtidak juga tundukhanya memilihmenjadi dirinya sendiritanpa perlu bersuara.

By |July 15, 2026|Categories: Sastra|0 Comments
Go to Top