Depresi: Puisi tentang Luka yang Tak Selalu Terlihat

[fusion_dropcap color="var(--awb-color8)" class="fusion-content-tb-dropcap"]D[/fusion_dropcap]epresi
Ia berjalan di dalam kepalanya sendiri,
di jalan yang tak pernah selesai dibangun.
Kursi tetap kursi,
meja tetap meja,
tapi tubuhnya seperti orang asing
yang kehilangan alamatnya.
Ia tertawa
namun tawanya tidak pulang.
Ia berbicara
namun suaranya jatuh
sebelum sempat didengar.
Di dadanya ada genderang
yang berdetak terlalu keras,
terlalu sendiri,
terlalu jujur untuk diabaikan.
Dan ia tahu
tidak ada yang datang menyelamatkan.
Tidak ada pahlawan.
Tidak ada kata-kata besar.
Hanya pagi
yang kembali memaksanya bangun
tanpa alasan yang cukup.
Ia ingin marah,
tapi marah pun
terasa terlalu jauh.
Ia ingin lari,
tapi kakinya
menjadi milik waktu yang berhenti.
Lalu ia berdiri
bukan karena kuat,
melainkan karena tidak jatuh hari ini.
Dan di sana,
dalam langkah yang hampir patah,
ia tetap ada.
Masih hidup.
Masih menyimpan sisa napas
yang belum sempat menyerah.






