Puisi Perempuan: Surat dari Perempuan yang Menolak Dibungkam

Published On: July 15, 2026By Categories: Sastra
Puisi Perempuan: Surat dari Perempuan yang Menolak Dibungkam

Surat dari Perempuan

Aku perempuan

tanpa senapan di tangan,

hanya kata-kata yang kupahat perlahan,

di dinding waktu yang kalian sebut kemapanan.

Aku belajar mengeja dari luka yang kalian tinggalkan,

dari tubuh yang sering kalian tafsirkan,

sebagai tempat pulang, bukan sebagai tujuan,

sebagai bayang, bukan sebagai kemungkinan.

Di meja makan aku kehilangan nama,

terselip di antara suara dan kuasa,

yang tumbuh dari dada yang tak pernah bertanya

dari rahim siapa mereka pertama-tama.

Kalian bertanya, di mana tempatku ada?

di kasur yang menyimpan lelah tanpa suara?

di dapur, di asap yang tak pernah punya rupa?

atau di sumur, di dasar gelap yang lupa cahaya?

Aku mencari diriku di sana,

di pantulan air yang goyah maknanya,

dan kulihat sesuatu duduk di singgasana,

bukan yang melahirkan, tapi yang memberi makna.

Aku perempuan yang kalian kira akan diam,

padahal setiap huruf yang kutulis adalah perlawanan,

aku menanam kata di tubuh zaman,

hingga akarnya menembus batas ketakutan.

Aku tidak datang membawa peluru dan baja,

tapi setiap kalimatku menolak untuk binasa,

ia hidup, berdenyut, menjalar dalam jiwa,

menggugat dunia yang lupa asal mula.

Kalian boleh membungkam mulutku malam ini,

menyebut suaraku sekadar angin yang pergi,

tapi dari tubuh yang kalian anggap sunyi,

aku menyimpan ribuan api yang tak terlihat lagi.

Dan saat satu saja menyala di gelap yang kalian bangun,

ia akan menjalar, membakar batas yang kalian susun,

dari rahim yang kalian abaikan, yang kalian rendahkan turun-temurun,

aku lahir berkali-kali, 

dan tak akan pernah kalian bunuh.

Total Views: 9|Daily Views: 1
Related Content