W.A. Borger: Dokter Belanda yang Menjadikan Tubuhnya Kelinci Percobaan demi Sains

Published On: July 15, 2026By Categories: Biografi, Hot News
W.A. Borger: Dokter Belanda yang Menjadikan Tubuhnya Kelinci Percobaan demi Sains

Ketika saya menelusuri lembar demi lembar arsip untuk menyusun sejarah vaksinasi di Nusantara, perhatian saya tertahan oleh sebuah nama yang berulang kali muncul dalam catatan epidemiologi awal abad ke-20, Dr. W.A. Borger. Sebenarnya ada kejengkelan kecil yang membayangi penelusuran ini. Hingga kini, dokumen-dokumen resmi kolonial yang saya kumpulkan—termasuk koran lama maupun jurnal kedokteran—selalu konsisten menyembunyikan identitasnya di balik inisial yang kaku. Saya masih kesulitan melacak dengan pasti apa kepanjangan dari “W.A.” tersebut. Sebuah teka-teki yang barangkali baru bisa dilengkapi jika ada peneliti lain yang berhasil membongkar bundel pencatatan sipil yang lebih dalam di Eropa.

Namun, keterbatasan nama itu tidak mengecilkan saya untuk menuliskan cerita sejarah tentang dirinya. Karena sumbangsihnya terhadap ilmu pengetahuan medis di awal abad ke-20, menurut saya perlu diketahui oleh generasi masa kini dan masa yang akan datang.

Desember 1915, sebuah kabar duka datang dari ruang perawatan Rumah Sakit Militer Surabaya. Koran De Sumatra Post edisi 16 Desember 1915 mengabarkan bahwa Dr. W.A Borger mengembuskan napas terakhir pada usia 40 tahun. Sebuah umur yang ringkas, namun diserahkan sepenuhnya pada kepungan wabah yang sedang melanda Hindia Belanda.

W.A Borger adalah korban langsung dari ilmu pengetahuan yang ia tekuni. Sebagai salah satu pilar di Institut Pasteur Weltevreden (yang kelak menjadi cikal bakal Bio Farma), Borger terinfeksi pneumonia sampar—varian paling mematikan dari pes—saat menguji coba vaksin langsung pada hewan-hewan laboratorium. 

W.A. Borger: Dokter Belanda yang Menjadikan Tubuhnya Kelinci Percobaan demi Sains
Memorial Plaque W.A Borger di Kantor Bio Farma, Bandung.

Lahir pada tahun 1875, Borger menyelesaikan studi kedokterannya di Universitas Leiden dan meraih gelar dokter pada tahun 1900. Langkah kakinya ke Nusantara dimulai sebagai dokter militer, berpindah dari pos ke pos pertahanan kolonial mulai dari Ambon, Wahai di pulau Seram, hingga tanah Aceh yang bergolak. Namun, bakat sejatinya bukan di medan perang dengan bedil, melainkan di balik ketenangan laboratorium. Pada 1907, ia pindah ke Institut Pasteur di Batavia. Di sinilah perjuangan sejatinya melawan berbagai kuman penyakit dimulai. Dedikasinya membawa Borger menduduki posisi Wakil Direktur Sementara di lembaga riset tersebut.

Pada kurun waktu menjelang kepergiannya, Dr. W.A. Borger menyadari bahwa kemajuan riset kedokteran tropis di Hindia Belanda tidak akan pernah beranjak maju tanpa adanya penguasaan mutakhir terhadap teknologi imunologi. Hal inilah yang mendorongnya mengambil cuti studi ke Eropa, sebuah perjalanan ilmiah yang ia niatkan khusus untuk mempelajari seluk-beluk teknis produksi serum penyembuh langsung dari laboratorium-laboratorium modern di sana.

Sebelum Borger berangkat mengambil cuti studi ke Eropa, Hindia Belanda sepenuhnya bergantung pada pasokan serum terapeutik impor yang dikirim dari laboratorium-laboratorium Barat. Ketergantungan ini membuat penanganan penyakit infeksi di koloni sering kali terlambat dan memakan ongkos besar. Borger pulang dari Eropa membawa cetak biru kemandirian medis. Rekan sejawatnya mengenang dalam obituari resmi jurnal Mededeelingen van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst in Nederlandsch-Indië Volume V (1916) bagaimana Borger langsung melemparkan seluruh jiwa dan pikirannya untuk merintis produksi serum lokal.

Kondisi laboratorium yang serbaterbatas saat itu benar-benar menguji kesabarannya. Salah satu kendala terbesar adalah ketiadaan kandang kuda yang layak, yang memaksanya menunda ambisi besar untuk memproduksi berbagai macam serum penyembuh. Namun, Borger tidak menyerah pada keadaan. Ia memilih realistis dan memusatkan seluruh energinya pada satu target realistis: membuat serum antitetanus. Kerja keras ini membuahkan hasil. Lewat tangannya, Hindia Belanda untuk pertama kali dalam sejarah mampu memproduksi serum antitetanus secara mandiri.

Kisah Borger memberikan kita ruang untuk melihat sejarah kolonial secara lebih jernih dan adil. Ada dualitas yang ganjil di sana: di satu sisi mereka adalah bagian dari mesin penjajahan yang mengeksploitasi bumi Nusantara, namun di sisi lain, dedikasi orang-orang Belanda ini terhadap ilmu pengetahuan sangat total dan penuh komitmen. Etos kerja ilmiah dan ketundukan mereka pada nalar sains inilah yang saya rasa patut kita tiru dan adopsi hari ini.

Saat wabah pes meledak di Malang dan wilayah Jawa Timur pada 1911, Institut Pasteur menjadi pusat riset yang paling sibuk. Borger mengambil peran di garis depan. Ia memimpin eksperimen pembuatan vaksin pes dengan menguji ribuan sampel bakteri pada hewan percobaan. Setiap kali melangkah masuk ke laboratorium, ia tahu betul bahwa ancaman tertular pneumonia pes melalui udara bisa merenggut nyawanya sewaktu-waktu. Di tengah perjuangan mematangkan formula vaksin itulah, ia bernasib malang. Bakteri pes berhasil menginfeksi tubuhnya dan merusak sistem pernapasannya hanya dalam hitungan hari.

Kepergian Borger meninggalkan lubang besar bagi komunitas sains kolonial. Rekan-rekan sejawatnya kehilangan seorang ilmuwan cerdas yang berhati hangat. Lembar obituari jurnal Mededeelingen tahun 1916 mengenang Borger sebagai sosok yang gemar tertawa riang. Kehadirannya selalu membawa ketenangan dan menyemangati timnya di tengah suasana laboratorium yang mencekam karena kepungan bakteri mematikan. Pengorbanan yang begitu besar membuat namanya abadi; sebuah plakat peringatan dipasang di dinding lembaga riset tempatnya bekerja sebagai bentuk penghormatan tertinggi bagi ilmuwan yang gugur di medan tugas.

Menariknya, jejak dedikasi Borger tidak sepenuhnya lenyap ditelan zaman. Jika Anda melangkah masuk ke Museum Bio Farma di Bandung hari ini, sebuah patung Dr. W.A. Borger berdiri tegak menyambut para pengunjung. Di sana tersimpan sebuah kisah yang menggetarkan: semasa hidupnya, Borger berulang kali menjadikan tubuhnya sendiri sebagai kelinci percobaan. Ia nekat menyuntikkan serum hasil temuannya ke dalam darahnya sendiri untuk memastikan keamanan vaksin tersebut sebelum disebarkan ke masyarakat luas. Tindakan berani yang melampaui batas tugasnya ini kemungkinan besar ia lakukan saat memimpin laboratorium Parc Vaccinogène—institusi yang menjadi akar sejarah Bio Farma sekarang.

Hingga kini, lembar-lembar laporan riset terakhirnya mengenai vaksin pes dan serum antitetanus yang terbit setahun setelah kematiannya pada 1916, seolah menjadi saksi bisu yang bicara banyak. Dr. Borger telah membuktikan bahwa sejarah panjang penanganan wabah di Indonesia tidak melulu soal kebijakan karantina wilayah atau pembersihan kampung-kampung kumuh, melainkan juga tentang pertaruhan darah dan nyawa para perintis biomedis di balik meja laboratorium.

Referensi: Mededeelingen van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst in Nederlandsch-Indië Volume V (1916) dan De Sumatra Post 16 Desember 1915

Total Views: 29|Daily Views: 6
Related Content