Tujuh Putaran di Halaman Rumah: Cerpen tentang Masa Kecil dan Imajinasi

Published On: July 15, 2026By Categories: Sastra
Tujuh Putaran di Halaman Rumah: Cerpen tentang Masa Kecil dan Imajinasi

Tujuh Putaran di Halaman Rumah

Cerpen ini adalah karya dari Muhammad Sabana

Namaku Ghazi, umurku lima tahun, dan hampir setiap hari aku berlari di halaman rumah seperti tidak pernah kehabisan tenaga, seolah-olah kakiku selalu tahu ke mana harus pergi meskipun aku sendiri tidak pernah benar-benar memikirkannya.

Di tengah halaman itu ada sebuah pohon kecil yang tidak terlalu tinggi, tetapi cukup untuk menjadi tempatku berputar-putar, tempat yang selalu kupilih setiap kali aku ingin bermain sendirian tanpa merasa benar-benar sendirian.

Aku sering mengelilinginya sambil menghitung dengan suara keras, satu, dua, tiga, lalu tiba-tiba melompat ke angka berikutnya karena aku lupa, dan setiap kali itu terjadi aku akan tertawa sendiri, seolah-olah kesalahan itu memang bagian dari permainan yang tidak perlu diperbaiki.

Kadang aku berhenti sebentar, melihat ke sekeliling, lalu berlari lagi, lebih cepat, lebih jauh, meskipun sebenarnya aku tidak pernah benar-benar pergi ke mana-mana selain kembali ke pohon itu.

Menurut orang dewasa halaman ini kecil, tetapi bagiku ia terasa seperti dunia yang luas, tempat segala sesuatu bisa dimulai untuk mengisi waktu dan membakar energiku.

Setiap pagi ayah pergi ke pasar membawa tas besar yang menurutku terlalu berat, tetapi ia tetap berjalan seperti biasa, seolah-olah beban itu sudah menjadi bagian dari langkahnya yang tidak pernah ia keluhkan.

Sebelum benar-benar pergi, ayah selalu berhenti sebentar untuk mengusap kepalaku, sebuah hal kecil yang tidak pernah ia lewatkan, seolah-olah itu penting agar harinya berjalan dengan baik.

Aku berdiri di depan rumah dan melambaikan tangan tinggi-tinggi, bahkan ketika ayah sudah semakin jauh dengan sepeda motornya, dan mungkin tidak lagi bisa melihatku, karena rasanya melambaikan tangan itu harus dilakukan sampai benar-benar selesai.

Di belakangku ada nenek dan kakek yang selalu ada di rumah, menemani dengan cara mereka sendiri, kadang dengan panggilan lembut, kadang hanya dengan senyuman.

Dan setelah semuanya kembali tenang, aku berbalik pelan lalu berlari lagi ke halaman, ke pohon kecil yang sejak tadi seperti sudah menungguku untuk memulai permainan.

Di dinding rumah ada sebuah foto ibu yang selalu tersenyum, dan setiap kali aku melihatnya, rasanya seperti ia sedang melihat kembali ke arahku.

Nenek pernah bilang bahwa ibu sekarang ada di surga, sebuah tempat yang jauh yang belum pernah kulihat, tetapi entah kenapa terasa tidak sepenuhnya asing ketika aku mengingat wajahnya.

Kadang aku berdiri di depan foto itu dan bercerita pelan, tidak terlalu jelas, hanya hal-hal kecil yang kuingat dari hari-hariku yang sederhana.

Aku bilang tentang pohon di halaman, tentang aku yang berlari, dan tentang ayah yang pergi ke pasar setiap pagi, seolah-olah semua itu memang perlu didengar. Setelah itu aku diam sebentar, lalu berbalik dan kembali berlari ke halaman dengan berkata pelan “Ibu… Ghazi main dulu yaa.”

Sore hari ayah pulang dari pasar dan begitu aku melihatnya dari depan rumah, aku langsung berlari tanpa berpikir, lariku cepat dan kaki-kakiku seakan bisa terbang. Aku memeluk ayah dengan gembira, mencium bau pasar yang menempel di bajunya, lalu menatapnya seolah-olah ada sesuatu yang sejak tadi ingin sekali kutanyakan.

Aku mulai bercerita cepat tentang permainanku, lalu tiba-tiba bertanya tentang sebuah tempat yang jauh, tempat orang-orang berjalan berputar-putar seperti yang kubayangkan di kepalaku.

Ayah tersenyum mendengarku, tidak langsung menjawab, lalu mengajakku duduk di dekat pintu seperti seseorang yang ingin memastikan ceritanya nanti tidak terlewat sedikit pun.

Katanya ia akan bercerita, dan aku pun diam, menunggu dengan rasa penasaran, seperti akan mendengar sesuatu yang penting meskipun aku belum tahu apa itu.

Ayah mulai bercerita tentang sebuah tempat yang jauh bernama Ka’bah di Makkah, dan cara ia mengatakannya membuatku merasa seperti sedang mendengarkan sesuatu yang sangat penting meskipun aku belum pernah melihatnya.

Ayah bilang bentuknya seperti bangunan kotak berwarna hitam, sederhana, tidak tinggi seperti gedung, tetapi menjadi tujuan banyak orang dari berbagai tempat yang sangat jauh.

Orang-orang datang ke sana untuk berdoa, beribadah, berjalan bersama dalam langkah yang pelan dan tertib, seolah-olah setiap langkah memiliki arti yang tidak bisa dilihat dengan mata saja. Mereka mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali, tidak terburu-buru, tidak saling mendahului, hanya berjalan dengan arah yang sama.

Ayah bilang itu disebut tawaf, dan aku mengulang kata itu pelan di dalam hati, seperti ingin menyimpannya agar tidak hilang begitu saja.

Aku melihat ke arah halaman, ke pohon kecil yang sejak tadi seperti diam menunggu, lalu tanpa berpikir panjang aku berkata pada ayah bahwa aku ingin mencoba seperti yang ia ceritakan.

Ayah tersenyum dan berkata bahwa aku boleh berjalan pelan sambil berdoa, karena setiap langkah dalam tawaf membawa doa yang bisa diucapkan dengan kata-kata sederhana dari hati.

Aku mengangguk, meskipun belum sepenuhnya mengerti, lalu berjalan ke halaman dan mulai mengelilingi pohon itu dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya. Aku mencoba tidak berlari, menahan diri untuk tidak tertawa atau melompat, karena aku ingin melakukannya dengan benar seperti yang ayah katakan.

Illustrasi Ghazi mengelilingi pohon

Di dalam hatiku aku berkata pelan, ini tawaf versiku, dan untuk pertama kalinya permainan itu terasa seperti sesuatu yang berbeda. Aku mulai berjalan lagi untuk putaran kedua, kali ini lebih pelan karena aku mulai ingat apa yang ayah katakan tentang doa yang bisa dibawa dalam setiap langkah.

Aku mencoba berdoa pelan, tidak keras, hanya seperti berbicara pada diriku sendiri agar tidak lupa apa yang ingin kukatakan. “Aku mau jadi anak baik,” kataku pelan, tanpa tahu apakah itu sudah benar seperti doa yang seharusnya.

Aku sempat ragu, berhenti sebentar di dalam langkahku, bertanya dalam hati apakah kata-kata itu cukup atau tidak. Tapi aku tetap melanjutkan berjalan, karena rasanya apa yang kukatakan tadi memang penting, meskipun aku belum sepenuhnya mengerti kenapa.

Aku melanjutkan langkahku untuk putaran ketiga, dan kali ini tanpa harus berpikir terlalu lama, aku langsung teringat ayah yang setiap pagi pergi ke pasar membawa tas besar tanpa pernah mengeluh.

Aku membayangkan ayah berjalan di antara banyak orang, berbicara, bekerja, dan tetap tersenyum meskipun terlihat lelah ketika pulang.

“Biar ayah tidak capek,” kataku pelan, seperti mengirimkan sesuatu yang tidak bisa kulihat tetapi ingin sekali kusampaikan. Aneh rasanya, karena setelah mengatakan itu langkahku terasa lebih ringan, seolah-olah aku tidak berjalan sendirian di halaman kecil ini.

Aku tersenyum kecil sambil terus berjalan, merasa bahwa apa yang kulakukan sekarang berbeda dari permainan biasanya. Aku melangkah lagi untuk putaran keempat, kali ini sambil mengingat nenek yang sering memanggilku dari dalam rumah, suaranya terdengar lembut tapi kadang harus diulang karena aku terlalu asyik bermain.

Aku membayangkan nenek berdiri di pintu, menatap ke arah halaman sambil menunggu aku datang, meskipun aku sering berkata “sebentar lagi” yang ternyata tidak benar-benar sebentar.

“Biar nenek tidak capek,” kataku pelan, seperti ingin mengganti semua panggilan yang sering tidak langsung kujawab. Aku terus berjalan mengelilingi pohon itu dengan langkah yang tetap pelan, berusaha tidak tergesa-gesa seperti sebelumnya. Sampai kembali ke tempat awal, aku menghitung dengan hati-hati, memastikan bahwa satu putaran lagi sudah benar-benar selesai.

Aku melanjutkan langkahku untuk putaran kelima, dan kali ini yang muncul di kepalaku adalah kakek yang sering duduk tenang di kursinya, tidak banyak bicara tetapi selalu tersenyum setiap kali melihatku. Aku membayangkan kakek yang diam itu sebenarnya selalu memperhatikan, seolah-olah ia tahu semua yang kulakukan meskipun tidak pernah mengatakan banyak hal.

“Biar kakek sehat,” kataku pelan, seperti mengirimkan doa yang sederhana tapi ingin sekali sampai. Angin bertiup lembut melewati halaman, membuat daun pohon bergerak pelan seperti ikut berjalan bersamaku.

Dan untuk sesaat aku merasa tidak sendirian, seolah-olah ada sesuatu yang menemani langkahku tanpa perlu terlihat. Aku mulai melangkah untuk putaran keenam, tetapi kali ini aku tidak langsung tahu apa yang ingin kukatakan, seolah-olah semua kata sudah kupakai di putaran sebelumnya.

Aku mencoba mencari lagi di dalam kepalaku, tetapi tidak ada yang muncul, hanya langkah kakiku yang terdengar pelan di tanah halaman. Aku tetap berjalan, tidak berhenti, karena aku ingat ayah bilang tidak apa-apa jika doanya sederhana atau bahkan hanya diam.

Aneh rasanya, karena meskipun aku tidak mengatakan apa-apa, hatiku tetap terasa tenang seperti sedang melakukan sesuatu yang penting. Seperti tidak semua hal harus diucapkan, kadang cukup dijalani sampai selesai.

Ini putaran terakhir, dan entah kenapa langkahku menjadi lebih pelan dari sebelumnya, seperti aku tidak ingin semuanya selesai terlalu cepat. Aku berjalan sambil melihat tanah, lalu pohon, lalu rumah, sampai akhirnya satu ingatan datang begitu saja tanpa aku mencarinya. Aku teringat ibu, wajahnya yang tersenyum di foto itu, dan untuk sesaat aku berhenti di dalam hatiku sendiri.

“Aku kangen,” kataku pelan, tidak panjang, tidak banyak, tetapi terasa penuh seperti sesuatu yang sudah lama ingin kusampaikan. Aku melanjutkan langkahku sampai kembali ke tempat semula, menyelesaikan putaran ketujuh dengan perasaan yang tidak bisa sepenuhnya kujelaskan.

Aku berhenti dan berdiri diam setelah menyelesaikan putaran itu, tidak langsung bergerak seperti biasanya, karena ada sesuatu yang terasa berbeda meskipun aku tidak tahu harus menyebutnya apa.

Aku melihat pohon itu sebentar, lalu melihat ke arah rumah, seperti ingin memastikan bahwa semuanya benar-benar sudah selesai. Tiba-tiba aku berlari ke arah ayah, lebih cepat dari sebelumnya, seperti ada sesuatu yang ingin segera kuberitahukan.

“Aku sudah tujuh kali!” kataku dengan suara penuh semangat, hampir seperti aku baru saja memenangkan sesuatu yang penting. Ayah tersenyum melihatku, dan senyum itu membuatku merasa bahwa apa yang kulakukan tadi benar-benar berarti.

Aku duduk di dekat ayah dan kembali bertanya tentang Ka’bah, karena rasanya ceritanya belum selesai dan aku masih ingin tahu lebih banyak. Ayah menjelaskan bahwa orang-orang yang datang ke sana memakai baju putih yang sederhana, tanpa hiasan, sehingga semua terlihat hampir sama.

Ayah bilang nama pakaian itu adalah ihram, dan setiap orang memakainya agar tidak ada yang merasa lebih dari yang lain. Aku mencoba membayangkan banyak orang berjalan bersama dengan baju putih, pelan, rapi, dan tidak saling mendahului. Di dalam bayanganku, mereka terlihat seperti satu barisan yang bergerak dengan tujuan yang sama.

Ayah melanjutkan ceritanya tentang haji dan umrah, menjelaskan bahwa haji dilakukan pada waktu tertentu, sedangkan umrah bisa dilakukan kapan saja oleh orang-orang yang datang ke Ka’bah.

Ayah bilang keduanya memiliki tawaf, yaitu berjalan mengelilingi Ka’bah dengan langkah pelan seperti yang tadi kucoba di halaman rumah. Ayah juga bercerita bahwa saat memulai putaran, orang-orang mengangkat tangan dan mengucapkan “Allahu Akbar,” sebuah takbir yang diucapkan dengan penuh rasa hormat.

Aku mencoba mengulangnya pelan di dalam hati, membayangkan orang-orang memulai langkah mereka dengan suara yang sama, bersama-sama. Aku mengangguk pelan, merasa bahwa apa yang kulakukan tadi ternyata punya cerita yang lebih besar dari yang kukira.

“Aku mau ke sana,” kataku pelan pada ayah, setelah semua cerita itu terasa seperti sesuatu yang tidak hanya ingin kudengar, tetapi juga ingin kualami sendiri suatu hari nanti.

Ayah menatapku sebentar, lalu tersenyum dan mengangguk, seolah-olah ia memahami keinginan kecil yang baru saja tumbuh di dalam hatiku. “InsyaAllah,” katanya singkat, tetapi terdengar seperti janji yang tidak perlu dijelaskan lebih panjang.

Aku merasa senang, bukan karena aku tahu kapan itu akan terjadi, tetapi karena membayangkannya saja sudah membuat hatiku terasa penuh. Di dalam kepalaku, aku mulai melihat diriku berjalan di tempat yang jauh itu, pelan, bersama banyak orang, mengelilingi sesuatu yang selama ini hanya kuceritakan dalam bayangan.

Aku kembali ke halaman tanpa berlari, langkahku lebih pelan dari biasanya, seperti masih membawa cerita ayah di dalam kepalaku. Aku mendekati pohon kecil itu dan menyentuh batangnya pelan, seolah-olah ia bukan sekadar tempat bermain, tetapi sesuatu yang baru saja menjadi bagian dari ceritaku hari ini.

“Terima kasih,” kataku kecil, tanpa benar-benar tahu kenapa aku harus mengatakannya, tetapi rasanya itu memang perlu. Aku berjalan satu putaran lagi mengelilinginya, tidak terburu-buru dan tidak menghitung seperti sebelumnya. Kali ini aku hanya berjalan dan merasakannya, seperti sesuatu yang tidak perlu diselesaikan, cukup dijalani saja. 

Malam mulai datang perlahan, membuat halaman yang tadi ramai oleh langkahku berubah menjadi lebih tenang.

Dari dalam rumah, nenek memanggilku untuk salat Maghrib, suaranya lembut tetapi terasa penting seperti sesuatu yang tidak boleh dilewatkan. Aku berlari kecil masuk ke dalam, melihat ayah dan kakek sudah siap untuk pergi ke masjid dengan langkah yang rapi dan wajah yang tenang.

Kakek tersenyum saat melihatku, dan ayah menatapku seolah mengajakku ikut dalam sesuatu yang terasa lebih besar dari sekadar berjalan. Hari ini terasa berbeda, seperti langkah-langkah kecilku tadi masih terus berjalan sampai ke waktu malam.

Aku berjalan bersama ayah menuju masjid, langkahku kecil mengikuti langkahnya, sementara langit berwarna merah menyala dan lampu-lampu mulai menyala di sepanjang jalan.

Kami melewati beberapa tetangga yang juga berjalan ke arah yang sama, saling menyapa pelan, seperti semua orang tahu ke mana mereka akan pergi tanpa perlu banyak bicara. Di dalam masjid, aku berdiri di pojokkan dan di samping ayah, kakek maju ke depan menjadi imam, suaranya tenang saat memulai salat Maghrib.

Aku mencoba mengikuti gerakan ayah, berdiri, rukuk, lalu sujud, meskipun kadang aku sedikit terlambat karena masih memperhatikan sekelilingku. Dan di dalam barisan itu, bersama ayah, kakek, dan orang-orang lain, aku merasa seperti bagian dari sesuatu yang besar, meskipun aku masih kecil.

Setelah salat selesai, aku berjalan pulang bersama ayah dan kakek, langkah kami pelan di jalan yang mulai sepi, sementara aku masih mengingat doa-doa yang kuucapkan saat tawaf kecil dan setelah salat tadi. Aku menoleh ke ayah sambil tetap berjalan, lalu bertanya pelan, “Ayah, doaku sampai?” seolah-olah pertanyaan itu ikut berjalan bersamaku sejak dari masjid.

Ayah tersenyum, dan kakek yang berjalan di sisi lain juga menatapku lembut, lalu ayah berkata bahwa doa selalu sampai, bahkan dari langkah kecil seperti yang kulakukan hari ini.

Kami sampai di rumah, dan nenek sudah menyiapkan makan malam, aromanya terasa hangat seperti menyambut kami yang baru pulang. Aku duduk di dekat ayah dan kakek, merasa tenang, seperti semua yang kulakukan hari ini sudah menemukan tempatnya tanpa harus dijelaskan lebih jauh.

Setelah makan malam, aku duduk di dekat ayah sambil memegang tangannya, merasakan hangatnya seperti sesuatu yang membuatku ingin tetap diam lebih lama. Aku melihat ke arah halaman melalui pintu yang sedikit terbuka, lalu berkata pelan, “Besok aku mau muter lagi,” seolah-olah itu sudah menjadi rencana yang penting. Ayah tertawa kecil mendengarnya, suara yang tidak keras tetapi cukup untuk membuat suasana menjadi lebih ringan.

“Boleh,” katanya sambil mengangguk, seperti tidak pernah meragukan apa yang ingin kulakukan.

Aku ikut tertawa, merasa bahwa besok adalah sesuatu yang sudah dekat dan menyenangkan untuk ditunggu.

Sebelum tidur, aku berdiri sebentar di depan pintu dan melihat ke arah halaman yang sudah gelap, berbeda dari siang tadi yang penuh dengan langkah-langkahku. Pohon kecil itu masih diam di tempatnya, tidak bergerak, tetapi entah kenapa terasa seperti tetap menungguku kembali.

“Aku besok ke sana lagi,” kataku pelan, seperti membuat janji yang hanya aku dan pohon itu yang tahu. Angin malam bertiup lembut, menggerakkan daun-daunnya sedikit, seolah-olah menjawab tanpa suara. Aku tersenyum kecil lalu berbalik masuk ke dalam rumah, membawa perasaan yang ingin kuingat sampai besok.

Aku masuk ke kamar dan naik ke tempat tidur, sementara ayah ikut berbaring di sampingku, membuat ruangan terasa lebih hangat dan tenang. Aku menarik selimut pelan dan memejamkan mata, masih mengingat langkah-langkahku di halaman serta cerita ayah tentang tempat yang jauh itu.

Tidak butuh waktu lama sampai semuanya terasa semakin ringan, seperti aku sedang berjalan lagi meskipun tubuhku sudah diam. Di dalam mimpi, aku berada di tempat yang luas bersama banyak orang yang berjalan pelan mengelilingi sesuatu yang sama di tengah.

Aku tersenyum dan berkata pelan, “Aku di sini, Bu,” seperti kata itu menemukan jalannya sendiri. Pagi datang lagi, dan aku terbangun dengan perasaan yang masih membawa sisa mimpiku semalam, seperti langkah-langkah itu belum benar-benar berhenti.

Aku berlari ke halaman, melihat pohon itu lagi, dan untuk sesaat aku teringat tempat yang jauh yang terasa begitu dekat di dalam mimpiku. Aku mulai berjalan pelan mengelilinginya, satu langkah demi satu langkah, tidak terburu-buru seperti sebelumnya.

Kali ini aku tidak hanya bermain, tetapi seperti mengingat sesuatu yang sudah pernah kulakukan, meskipun aku belum benar-benar pernah ke sana. Dan di dalam hatiku aku tahu, langkah kecilku bisa membawa doa sampai ke tempat yang jauh, bahkan sampai ke ibu.

Total Views: 12|Daily Views: 3
Related Content