Sejarah Bio Farma: Kisah Lahirnya Produsen Vaksin dari Ancaman Wabah Cacar

Published On: July 15, 2026By Categories: SejarahTags:
Sejarah Bio Farma: Kisah Lahirnya Produsen Vaksin dari Ancaman Wabah Cacar

[fusion_dropcap color="var(--awb-color8)" class="fusion-content-tb-dropcap"]H[/fusion_dropcap]ari-hari di pesisir Nusantara pada abad ke-19 sering kali dicekam oleh ketakutan yang tak kasat mata. Saban tujuh atau delapan tahun sekali, sebuah momok bernama cacar—atau variola—datang menyapu pemukiman warga dengan daya rusak yang mengerikan. Berdasarkan catatan sejarawan Peter Boomgaard, serangan epidemi ini rata-rata merenggut seperenam dari populasi yang terinfeksi. Di tengah keputusasaan itu, masyarakat pribumi bergerak dengan caranya sendiri. Suku Kubu di pedalaman Sumatra dan suku Dayak di Kalimantan, misalnya, memilih mundur jauh ke dalam hutan begitu mendengar desas-desus wabah. Mereka memutus kontak dengan dunia luar, menerapkan karantina komunitas yang ketat, dan melangsungkan perdagangan tanpa tatap muka yang dikenal sebagai silent trade demi menghindari penularan. 

Sementara di Jawa dan Madura, urusan mencabut dan menolak bala berada di tangan para dukun. Koloniaal Verslag tahun 1884 mencatat setidaknya ada lebih dari 11.000 dukun yang aktif berpraktik. Di hadapan bintil-bintil nanas cacar yang merusak kulit, para dukun meramu mantra, jimat, pijatan, hingga herba tradisional. Bagi pemerintah kolonial, keberadaan belasan ribu dukun ini adalah tembok besar yang menghalangi penetrasi medis Barat. 

Lanskap medis ini mulai terusik ketika kabar dari Eropa berembus ke Hindia. Pada 14 Mei 1796, seorang dokter asal Inggris bernama Edward Jenner melakukan tindakan nekat yang kelak mengubah jalannya peradaban manusia. Jenner mengambil cairan dari luka cacar sapi (cowpox) pada tangan seorang pemeras susu, lalu mencangkokkannya ke lengan James Phipps, seorang bocah laki-laki berusia delapan tahun. Eksperimen Jenner berhasil dan bocah itu kebal dari cacar. Dunia menyambut penemuan baru imunologi modern, dan pemerintah kolonial Batavia sadar mereka harus membawa teknologi ini ke Nusantara. 

Namun, membawa teknologi modern ke negeri tropis bukanlah perkara gampang. Sebelum lemari pendingin ditemukan, distribusi penawar maut ini memicu masalah logistik. Pemerintah kolonial terpaksa menggunakan metode arm-to-arm—sebuah estafet biologis di mana cairan getah cacar ditransfer langsung dari lengan seorang anak yang baru divaksinasi ke lengan anak lainnya secara berantai selama perjalanan kapal berbulan-bulan dari Eropa. Di bawah terik matahari dan kelembapan tinggi khatulistiwa, rantai biologis ini kerap kali putus di tengah jalan. Vaksin mati sebelum sampai ke lengan-lengan bocah pribumi di pedalaman. 

Kelahiran Lembaga Vaksin di Hindia Belanda

Sejarah Bio Farma: Kisah Lahirnya Produsen Vaksin dari Ancaman Wabah Cacar
Staatsblad van Nederlandsch-Indië Nomor 14

Sadar bahwa mengandalkan kiriman dari Eropa adalah kesia-siaan, Pemerintah Hindia Belanda akhirnya mengambil langkah radikal. Pada 6 Agustus 1890, Gubernur Jenderal Cornelis Pijnacker Hordijk melalui Sekretaris Umum (Algemeene Secretarie) menandatangani Staatsblad van Nederlandsch-Indië Nomor 14. Regulasi ini menjadi landasan hukum berdirinya Parc-vaccinogène di Meester Cornelis (kini Jatinegara, Jakarta), setelah sebelumnya sempat dirintis secara terbatas di Batutulis dan Weltevreden.

Sebagai Direktur Utama pertama, ditunjuklah Dr. C.D. Schuckink Kool per 1 Oktober 1890. Di bawah kendalinya, laboratorium ini mulai menata produksi getah cacar dengan memanfaatkan anak sapi sebagai media pembiakan virus secara berantai. Namun, laboratorium ini bukan hanya tempat sains murni bekerja, tempat ini adalah cerminan sempurna dari stratifikasi rasial masyarakat kolonial saat itu. Di puncak hierarki berdiri direktur dan para perwira medis Eropa sebagai otak pemikir. Di lapis kedua, ada para mantri cacar pribumi yang bertugas mengeksekusi penyuntikan di lapangan. Sementara di lapis paling bawah, bekerja para mandeur (pengawas kandang) dan kuli-kuli pribumi yang bertugas membersihkan kotoran dan merawat anak-anak sapi yang dipinjam dari peternak lokal. 

Untuk menembus resistensi masyarakat dan menggeser dominasi dukun, pemerintah memanfaatkan lulusan Sekolah Dokter Jawa (STOVIA). Korps ini dipersenjatai dengan tabung kapiler berisi vaksin dan dikirim ke pelosok-pelosok desa sebagai koepok-inenters atau mantri cacar. Perlahan tapi pasti, mantri cacar mulai menggeser posisi dukun dalam urusan wabah, sekaligus menjadi perpanjangan tangan biopolitik kolonial untuk mendisiplinkan tubuh rakyat pribumi. 

Seiring berjalannya waktu, institusi ini terus berkembang. Mengikuti kesuksesan Institut Pasteur di Paris yang didirikan pada 1887, laboratorium di Batavia ini memperluas jangkauan risetnya. Pada 18 Mei 1895, namanya resmi menjadi De Landskoepokinrichting en het Instituut Pasteur setelah mereka berhasil membuka layanan pembuatan penawar rabies yang diekstrak dari otak kelinci. 

Perjalanan lembaga sains ini tak luput dari drama internal dan skandal. Ketika Dr. L.J. Eilerts de Haan mengambil alih kepemimpinan, ia mulai menerapkan komersialisasi sains dengan menetapkan tarif resmi f 1,00 untuk setiap tabung kapiler vaksin yang didistribusikan pada tahun 1893. Namun, kebijakan finansial ini justru menjeratnya dalam masalah besar. Pada tahun 1896, Eilerts de Haan dicopot dari jabatannya dan harus menghadapi audit keuangan yang panjang dan melelahkan. Pers kolonial kala itu ramai memberitakan skandal ini hingga bertahun-tahun kemudian, menyisakan masa transisi yang sempat diisi oleh Dr. G. Grijns (1897–1898). 

Roda organisasi baru efektif dan efisien ketika Dr. Albertus Hendrikus Nijland naik takhta sebagai direktur pada tahun 1898. Di tangan Nijland, sebuah terobosan praktis lahir. Menyadari bahwa pasokan anak sapi di Batavia sering kali tidak stabil dan kulitnya terlalu tipis, Nijland mengalihkan media pembiakan virus dari anak sapi ke kerbau. Kulit kerbau yang lebih tebal dan bidang tubuhnya yang luas ternyata mampu menghasilkan volume getah vaksin yang berlipat ganda. Inovasi kerbau ini sukses besar dan berhasil mengamankan stok vaksin dalam jumlah masif untuk wilayah Hindia Belanda yang sangat luas. 

Namun, sains di tempat ini juga menuntut tumbal nyawa. Pada tahun 1915, sebuah duka mendalam menggelayuti lembaga. Dr. W.A. Borger, salah satu peneliti andalan di laboratorium, gugur di tengah tugasnya. Ia terinfeksi secara tidak sengaja oleh kultur kuman pneumonia yang sedang ditelitinya sendiri di dalam laboratorium.

Eksodus ke Bandung: Menuju Ibu Kota Sains

Memasuki dekade 1920-an, geopolitik dunia mulai menghangat. Letak Instituut Pasteur di Batavia yang berada dekat dengan garis pantai dinilai sangat rentan dari sudut pandang militer. Jenderal KNIL Dr. H.M. Neeb melayangkan sebuah usulan strategis, dimana seluruh fasilitas sains dan produksi vaksin yang vital bagi ketahanan negara harus dipindahkan jauh ke pedalaman yang dikelilingi benteng alam. Pilihan jatuh pada Bandung, sebuah kota pegunungan yang sedang bersolek menjadi pusat administrasi baru. 

Pada tahun 1923, eksodus besar-besaran dilakukan. Kompleks laboratorium megah berdiri di Jalan Pasteur, Bandung. Proyek pengerjaan gedung ini dilakukan oleh Burgerlijke Openbare Werken (BOW) melalui firma arsitek kolektif Architecten-en Ingenieursbureau Schoemaker. Meski sering kali publik hari ini mengaitkan kemegahan gedung tersebut sebagai karya tunggal C.P. Wolff Schoemaker, arsip sejarah meluruskan bahwa Richard Schoemaker—sang abang yang berlatar belakang militer—memiliki andil besar dalam merancang tata ruang kompleks yang fungsional dan aman ini. 

Sejarah Bio Farma: Kisah Lahirnya Produsen Vaksin dari Ancaman Wabah Cacar
Dr. Louis Otten, mantan pemain sepak bola Timnas Belanda dan Direktur Instituut Pasteur (1924-1942). (sumber foto: KITLV)

Di Bandung, lembaga ini memasuki masa keemasannya di bawah pimpinan Dr. Louis Otten. Sosok Otten terbilang unik, karena sebelum dikenal sebagai ilmuwan bertangan dingin, ia adalah mantan atlet sepak bola legendaris yang pernah membela Tim Nasional Belanda dalam Olimpiade tahun 1908. Di bawah kendalinya, dan dibantu oleh ketelitian luar biasa dari Miss Van Genderen yang menjabat sebagai kepala administrasi perempuan, Instituut Pasteur Bandung menjelma menjadi salah satu pusat sains paling disegani di Asia. 

Otten berhasil menciptakan vaksin cacar kering (droge pokstof). Inovasi ini memecahkan masalah klasik yang telah menghantui dunia medis tropis selama seabad, dimana vaksin kini bisa disimpan dan dikirim ke pelosok Nusantara tanpa perlu mesin pendingin atau takut rusak di tengah jalan. Bandung pun sejajar dengan laboratorium-laboratorium utama di Paris dan London dalam peta sains global. 

Militerisasi Total di Tangan Rikugun

Sayangnya kejayaan sains sipil itu runtuh seketika ketika genderang Perang Dunia II dimulai. Setelah Belanda bertekuk lutut tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati pada 8 Maret 1942, bala tentara Angkatan Darat Kekaisaran Jepang (Rikugun) langsung bergerak menguasai aset-aset strategis. Instituut Pasteur tidak luput dari penjarahan intelektual ini. Para ilmuwan Eropa, termasuk Dr. Louis Otten, ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp interniran. 

Nama lembaga diubah menjadi Bandung Boeki Kenkyushoo. Di bawah kendali militer Jepang, fungsi lembaga ini dirombak total. Kepemimpinan diserahkan kepada Mayor Jenderal Dr. Kikuo Kurauchi, seorang perwira medis senior Jepang yang memiliki kedekatan emosional dan epistemik dengan jaringan Unit 731—sebuah unit rahasia Jepang di Manchuria yang terkenal dengan eksperimen perang biologisnya. 

Di bawah Kurauchi, tidak ada lagi ruang untuk riset sipil jangka panjang yang humanis. Bandung Boeki Kenkyushoo dipaksa menjadi pabrik raksasa yang bekerja siang dan malam demi memproduksi vaksin massal: kolera, tifus, pes, hingga disenteri. Ratusan ribu dosis vaksin ini dikemas bukan untuk menyelamatkan penduduk pribumi yang kelaparan, melainkan dikirim ke garis depan pertempuran di Pasifik untuk memastikan prajurit-prajurit Kekaisaran Jepang tidak tumbang oleh penyakit sebelum sempat memegang senapan.

Nasionalisasi dan Babak Baru Kemandirian

Ketika Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, gejolak tidak serta-merta mereda. Kompleks laboratorium di Jalan Pasteur kembali menjadi rebutan seiring datangnya Sekutu dan tentara NICA Belanda yang memicu peristiwa Bandung Lautan Api. Fasilitas riset sempat terbengkalai, dan sebagian ilmuwan Indonesia terpaksa mengungsikan aktivitas produksi darurat ke Klaten, Jawa Tengah, demi mengamankan ketersediaan serum medis untuk para pejuang republik.

Setumpuk drama perang mereda setelah kedaulatan diakui pada akhir 1949. Pemerintah Indonesia bergerak cepat mengambil alih kembali fasilitas Bandung. Momentum krusial terjadi pada tahun 1950, ketika institusi ini resmi dinasionalisasi dan bersalin nama menjadi Perusahaan Negara Pasteur. Di tangan para ilmuwan pribumi yang sempat menderita di bawah bayang-bayang hierarki rasial kolonial, laboratorium ini tidak lagi melayani kepentingan mahkota imperialis ataupun mesin perang asing, melainkan sepenuhnya dikerahkan untuk hajat hidup bangsa yang baru lahir.

Transformasi kelembagaan terus bergulir. Pada dekade 1960-an, namanya berubah menjadi Perusahaan Negara Bio Farma, sebelum akhirnya mantap berbentuk Perusahaan Perseroan (PT Bio Farma) pada tahun 1997. Dari sebuah paviliun kecil pembiakan getah cacar di Meester Cornelis, Bio Farma berevolusi menjadi raksasa bioteknologi modern. Perusahaan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan imunisasi nasional guna membebaskan anak-anak Indonesia dari polio, campak, dan tetanus, tetapi juga menembus pasar global. Produk-produk dari Jalan Pasteur kini diekspor ke lebih dari 150 negara, menjadikannya salah satu produsen vaksin terbesar dan paling diakui di belahan bumi selatan.

Dari Meester Cornelis yang berdebu hingga ke sejuknya kota Bandung, sejarah pervaksinan di Indonesia adalah sebuah narasi panjang tentang pertarungan manusia melawan wabah, benturan budaya antara dukun dan mantri, serta bagaimana sebuah botol vaksin kecil kerap kali diperebutkan oleh kepentingan kekuasaan dan kolonialisme. 

Lebih dari seabad berlalu, dinding-dinding kokoh bangunan di Jalan Pasteur masih berdiri tegak. Ia bukan lagi simbol biopolitik kolonial yang mengontrol tubuh bumiputera, melainkan monumen hidup dari sebuah proses panjang penjinakan maut. Sejarah membuktikan bahwa di tanah ini, sains tidak pernah berdiri di ruang hampa dan selalu berkelindan erat dengan nasib sebuah bangsa. 

Referensi

Buku

Baird, J. K., & Marzuki, S. (2015). War crimes in Japan-occupied Indonesia: A case of murder by medicine. Potomac Books.

Bazin, H. (2000). The eradication of smallpox: Edward Jenner and the first and only eradication of a human infectious disease. Academic Press.

Bergen, L. van, Hesselink, L., & Verhave, J. P. (Penyunt.). (2019). Gelanggang riset kedokteran di bumi Indonesia: Jurnal kedokteran Hindia-Belanda 1852-1942 (N. Andarnuswari, Penerj.). Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia; Universiteit Leiden; KITLV-Jakarta.

Fenner, F., Henderson, D.A., Arita, I., Jezek, Z., Ladnyi, I. D., (1988). Smallpox and Its Eradication. World Health Organization. Geneva.

Hesselink, L. (2009). Genezers op de koloniale markt: Inheemse dokters en vroedvrouwen in Nederlands Oost-Indië 1850-1915. Vossiuspers UvA; Amsterdam University Press.

Holid, A. (2011). Dari Jalan Pasteur Untuk Dunia Sejarah Bio Farma. PT Bio Farma. Bandung.

Jurnal Ilmiah

Boomgaard, P. (2003). Smallpox, vaccination, and the Pax Neerlandica: Indonesia, 1550-1930. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 159(4), 590–617

Surat Kabar

Bataviaasch Handelsblad, edisi Senin, 30 September 1890. Kategori: Pengangkatan Resmi Dr. C.D. Schuckink Kool sebagai Direktur Utama Parc-Vaccinogène. 

Bataviaasch Nieuwsblad, edisi Selasa, 2 Januari 1923. Kategori: Relokasi De Landskoepokinrichting en het Instituut Pasteur dari Weltevreden ke Bandung. 

De Locomotief, edisi Senin, 29 Juni 1903. Kategori: Audit Administratif dan Pemeriksaan Keuangan Eks-Direktur Dr. L.J. Eilerts de Haan. 

De Sumatra Post, edisi Kamis, 16 Desember 1915. Kategori: Berita Duka Gugurnya Peneliti Lab Dr. W.A Borger akibat Infeksi Bakteri Pneumonia. 

De Sumatra Post, edisi 8 Oktober 1926. Kategori: Laporan Uji Coba Massal Vaksin Cacar Kering (Droge Pokstof) Inovasi Dr. Louis Otten. 

Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, edisi Selasa, 21 Mei 1901. Artikel: “Indië in Nederland” (Peninjauan Ulang Tata Kelola Keuangan Parc-Vaccinogène). 

Java-Bode, edisi 11 Oktober 1892. Kategori: Suksesi Kepemimpinan Lembaga dari Dr. C.D. Schuckink Kool kepada Dr. L.J. Eilerts de Haan. 

Soerabaiasch-Handelsblad, edisi Rabu, 19 Februari 1896. Kategori: Pemberhentian Mendadak Dr. L.J. Eilerts de Haan dari Jabatan Direktur. 

Total Views: 35|Daily Views: 3
Related Content